Rabu, 15 November 2017

Karena Sebuah Senyuman

"Aku tidak pernah tahu bahwa senyum yang bahkan tidak harus kubeli itu ternyata seharga sebuah masa depan"

Tujuh tahun yang lalu aku berada dalam sebuah ruangan,  tempat dimana aku akan menimbah ilmu ketika itu, mengikuti sebuah kegiatan yang jika saya tidak salah ingat mereka menamainya Basic Study Skills. Pemateri-pemateri datang dan memberikan materi ini dan itu yang terus terang saya tidak mengingat banyak tentang semua itu kecuali tentang satu materi dari seorang pemateri yang meskipun tak aku hapalkan namanya tapi wajahnya masih teringat sangat jelas. Pemateri yang membawakan materi tentang pengendalian diri, aku masih ingat beberapa kalimat yang ia ucapkan dengan jelas tapi yang paling tidak akan aku lupakan adalah saat ia mengomentari senyumku.

Saat ia tengah menjelaskan materinya, tiba-tiba ia menatap ke arahku yang kemudian aku balas tatapan itu dengan sebuah senyuman. Lalu ia berkata padaku,

"Wajah seperti ini yang akan memudahkan jalanmu"
Bingung ? Saya juga. Bagaimana mungkin wajah akan memudahkan hidupmu. Lalu ia melanjutkan bahwa dengan senyum itu aku akan mendapat banyak kemudahan ke depannya.

Aku berfikir peristiwa itu sedikit lucu, bahwa hanya dengan sebuah senyum lantas aku akan mendapatkan banyak kemudahan. Begitu lucu, hingga bahkan aku menceritakan pada kedua orang tuaku, tapi Papaku seperti biasa selalu melihat segala hal sebagai sesuatu yang positive. Mungkin saja pemateri itu benar, katanya.

Lalu tahun demi tahun, ingatan itu masih tersimpan rapi di folder lama di pikiranku. Tapi seperti folder-folder lama pada umumnya, kita tidak banyak membukanya hingga kita sadar ada sesuatu yang harus kita lihat disana.

Hari ini aku membuka folder itu, mengingat rentetan-rentetan perjalanan yang aku jalani beberapa tahun terakhir. Melihat diriku yang bukan siapa-siapa, lantas tiba-tiba hari ini sudah berada di tanah eropa. Menulis kisah ini dari kamarku yang hangat meski udara luar mungkin sekitar 3 atau 4 derajat Celcius, menulis kisah ini di Wageningen, di negara kincir angin Belanda. Siapalah aku, gadis dari kampung yang tiba-tiba saja terdampar disini, diberi kesempatan belajar dari Profesor-profesor hebat di Universitas nomor 1 di dunia untuk bidang yang aku pelajari. Yah, siapa aku yang Alhamdulillah diberi kemudahan mulai dari pendaftaran beasiswa hingga tes bahasa dan pendaftaran kampus.

Aku mulai menguliti pelajaran dibalik perjalanan itu, bahwa mungkin benar yang dikatakan pemateri itu tujuh tahun yang lalu bahwa dengan senyum kita bisa mendapatkan banyak kemudahan dalam hidup. Bahwa dengan senyum kita akan mendapatkan do'a dari orang-orang yang mungkin do'anya akan lebih awal dikabulkan dari do'a kita. Bahkan, tujuh tahun yang lalu seharusnya aku sadar bahwa karena senyum yang aku berikan padanya ia mendoakan kemudahan dalam hidupku, sebuah senyum tak berharga tapi ternyata bernilai sebuah masa depan.

Cheers,


Ira Djalal

 

Ira Djalal Published @ 2014 by Ipietoon